Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia diperkirakan masih berpeluang mencetak rekor baru seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi geopolitik global yang memicu bayang-bayang perang dunia ketiga. Kondisi tersebut mendorong pergeseran dana investor ke aset lindung nilai di tengah tekanan pada pasar keuangan global.
“Ketegangan geopolitik yang meluas ke isu ekonomi global membuat emas tetap menjadi aset paling aman sehingga peluang kenaikan harga masih terbuka,” kata Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, Rabu (21/1/2026).
Eskalasi geopolitik global memberi sentimen positif bagi pergerakan harga emas dunia. Pada perdagangan pagi, harga emas kembali naik dan mencetak rekor tertinggi baru di level US$4.834 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram.
Kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berskala besar mendorong peningkatan permintaan emas secara signifikan. Situasi tersebut diperkuat oleh kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menembus level 4,826%.
Tekanan global itu berdampak langsung pada pasar keuangan domestik. Nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ditransaksikan melemah di kisaran 16.950 per dolar AS.
Pelemahan Rupiah dipicu kombinasi sentimen negatif eksternal dan internal yang terus membebani pasar. Memburuknya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa yang meluas ke isu ekonomi menjadi sentimen negatif utama.
Bank Indonesia dijadwalkan memutuskan besaran suku bunga acuan pada perdagangan hari ini. Pasar memproyeksikan suku bunga tetap dipertahankan di level 4,75%.
Penurunan suku bunga dinilai berisiko dalam kondisi saat ini. Tekanan terhadap Rupiah berpeluang memburuk jika pelonggaran kebijakan moneter dilakukan di tengah ketidakpastian global.
Tekanan serupa juga terlihat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah di level 9.094.
Pelemahan IHSG sejalan dengan penurunan mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi. Sentimen geopolitik global kembali memberatkan pergerakan pasar saham regional.
Rencana Amerika Serikat yang masih berupaya menganeksasi Greenland menambah ketidakpastian global. Isu tersebut dinilai menjadi faktor tambahan yang menekan IHSG.
Perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa menjadi isu ekonomi besar yang terus membayangi pasar keuangan. IHSG dan Rupiah dinilai paling rentan terdampak saat tensi geopolitik memanas dan meluas ke sektor ekonomi.
