google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Emas Cetak Rekor Baru Didorong Inflasi AS dan Ketegangan Geopolitik Global

Advertisement

Harga Emas Cetak Rekor Baru Didorong Inflasi AS dan Ketegangan Geopolitik Global

14 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Penguatan harga didorong tekanan inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.


Emas ditransaksikan menguat di kisaran US$4.635 per ons troy atau sekitar Rp2,52 juta per gram. Seiring pasar global yang mengalihkan portofolio ke aset lindung nilai.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kenaikan harga emas terjadi di tengah kombinasi sentimen global yang saling menguatkan. Inflasi AS yang masih terjaga membuka ruang spekulasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve, sementara eskalasi geopolitik mendorong investor mencari aset aman.


"Ketidakpastian global membuat pasar cenderung mengakumulasi emas ketimbang instrumen keuangan lain," katanya, di Medan.


Gunawan menilai reli emas berpotensi berlanjut selama tekanan geopolitik belum mereda dan arah kebijakan moneter global masih longgar. Menurut dia, kombinasi inflasi, ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan membuat emas tetap menjadi aset favorit investor pada awal 2026.


Adapun penguatan emas berlangsung bersamaan dengan pergerakan positif pasar keuangan regional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan yang sama ditutup menguat 0,94% ke level 9.032,584.


Untuk pertama kalinya, IHSG berhasil ditutup di atas level psikologis 9.000 setelah beberapa kali hanya menembusnya secara intraday. Kinerja IHSG ditopang menguatnya mayoritas bursa saham Asia serta saham-saham berkapitalisasi besar dan komoditas.


Sejumlah emiten seperti BUMI, ANTM, GOTO, BMRI dan TINS mencatatkan penguatan. Sentimen eksternal juga datang dari neraca perdagangan China yang membukukan surplus US$808,8 miliar pada Desember, melampaui ekspektasi pasar di kisaran US$805 miliar.


Di pasar valuta, Rupiah ditutup menguat ke level 16.855 per Dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah rilis data inflasi AS memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed, meski pada awal perdagangan Rupiah sempat dibayangi tekanan.