google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Emas Lanjutkan Kenaikan Dikerek Data Inflasi AS dan Tensi Geopolitik Global

Advertisement

Harga Emas Lanjutkan Kenaikan Dikerek Data Inflasi AS dan Tensi Geopolitik Global

12 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia kembali bergerak menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu data ekonomi Amerika Serikat dan memburuknya tensi geopolitik internasional.


Pada perdagangan awal pekan, Senin (12/1), emas sempat mencetak rekor tertinggi baru di atas level 4.700 Dolar AS per ons troy. Sebelum kembali ditransaksikan stabil di kisaran 4.566 Dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,48 juta per gram.


Penguatan emas terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah tekanan pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik, mulai dari memburuknya hubungan Rusia dan Amerika Serikat hingga demonstrasi besar di Iran, mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen aman seperti emas.


Di saat yang sama, nilai tukar Rupiah masih berada dalam tekanan. Rupiah ditransaksikan melemah di kisaran 16.840 per Dolar AS. Tekanan itu dipengaruhi penguatan dolar global serta sentimen domestik terkait kondisi fiskal, khususnya defisit APBN.


Tekanan pada Rupiah berpotensi menjadi faktor tambahan yang menopang harga emas dalam denominasi rupiah. Pada bagian lain, pergerakan pasar saham regional relatif positif pada awal pekan.


Mayoritas bursa saham Asia dibuka menguat, diikuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut bergerak naik dan dibuka di level 8.991. Meski demikian, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati karena sentimen eksternal dinilai masih dominan memengaruhi arah pasar.


Pelaku pasar kini bersiap menghadapi rangkaian data ekonomi penting sepanjang pekan ini. Dari dalam negeri, data penjualan ritel menjadi perhatian awal.


Sementara dari eksternal, fokus utama tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat. Yang akan diikuti data penjualan ritel, inflasi produsen, data perdagangan China, hingga klaim pengangguran mingguan AS.


Ekonom UISU Gunawan Benjamin menilai arah pergerakan emas masih akan sangat ditentukan oleh hasil rilis data inflasi AS dan perkembangan geopolitik global.


"Jika inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, pasar akan berspekulasi The Fed menunda penurunan suku bunga, dan kondisi ini berpotensi menjaga tren kenaikan harga emas," ungkapnya di Medan.