Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penghentian perdagangan sementara sebelum akhirnya ditutup terkoreksi 1,06% ke level 8.232,201 pada Kamis (29/1).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak cepat menyiapkan aturan baru terkait free float. Hal itu untuk merespons evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Langkah OJK menyiapkan aturan baru free float memberikan napas bagi pasar yang sempat dilanda kepanikan akibat ketidakpastian evaluasi MSCI terhadap saham-saham unggulan,” ujar Ekonom UISU Gunawan Benjamin, di Medan.
Selama sesi perdagangan, IHSG menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi dengan rentang gerak antara 7.481 hingga 8.296. Sebanyak 521 saham terpantau mengalami penurunan, sementara 214 saham lainnya sanggup bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Sejumlah saham big cap seperti BUMI, TLKM, ANTM, BBNI, hingga EXCL tercatat mengalami pelemahan signifikan. Namun, saham-saham raksasa lain seperti BBCA, BBRI, BMRI, BREN, hingga AMMN berhasil berbalik menguat di tengah tekanan pasar.
Optimisme pasar kembali tumbuh seiring upaya pemenuhan standar indeks global yang dicanangkan otoritas pasar modal. Kondisi ini diharapkan mampu meredam gejolak yang sempat memicu penghentian sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Sementara itu, nilai tukar rupiah tetap tertahan di zona merah dengan ditutup melemah pada level 16.745 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda relatif lebih stabil dibandingkan IHSG meski sempat menyentuh level terendah 16.790.
Kinerja dolar AS sendiri belum sepenuhnya menguat karena pasar masih menunggu potensi sikap hawkish dari Bank Sentral AS. Di sisi lain, harga emas dunia terpantau mengalami koreksi sehat di level $5.507 per ons troy atau Rp2,97 juta per gram.
Harga logam mulia tersebut masih mampu bertahan di atas level psikologis $5.500 meskipun sempat menyentuh $5.530 pada sesi pagi. Penurunan tipis ini dinilai sebagai konsolidasi wajar setelah emas mencapai level tertingginya dalam perdagangan harian.
