Kantor the Fed. (Reuters)
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia melanjutkan reli penguatan di tengah ketidakpastian Bank Sentral Amerika Serikat menyusul persoalan hukum yang menjerat Gubernur The Fed. Pada perdagangan sesi Amerika Serikat, emas ditransaksikan menguat ke level US$4.620 per ons troy sebelum terkoreksi tipis di kisaran US$4.585 per ons troy, atau setara lebih dari Rp2,5 juta per gram.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai penguatan emas dipicu kombinasi ketidakpastian kebijakan moneter AS dan memanasnya situasi geopolitik global.
"Kasus hukum yang menimpa Gubernur The Fed menimbulkan spekulasi intervensi pemerintah terhadap bank sentral, sehingga pasar mencari aset aman seperti emas," katanya, Selasa (13/1).
Gubernur Bank Sentral AS saat ini tengah diperiksa jaksa terkait dugaan tindakan kriminal atas kesaksiannya pada Juni lalu. Situasi tersebut memunculkan spekulasi bahwa The Fed berpeluang melakukan pemangkasan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan.
Ketidakjelasan arah kebijakan moneter ini dinilai memperbesar minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai. Tekanan geopolitik turut memperkuat sentimen positif emas.
Memburuknya kondisi keamanan di Timur Tengah, khususnya meningkatnya tensi di Iran, menambah ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke aset safe haven, sekaligus menopang harga emas di level tinggi meskipun terjadi koreksi terbatas.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 8.931 pada perdagangan pagi. Penguatan mayoritas bursa saham Asia menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG.
Indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang 8.870 hingga 8.950, dengan peluang kembali menguji level psikologis 9.000. Namun, penguatan IHSG berpotensi tertahan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah.
Mata uang Garuda melemah ke level 16.870 per dolar AS pada perdagangan pagi. Tekanan terhadap Rupiah diyakini masih berlanjut seiring ketidakpastian ekonomi global dan bayang-bayang defisit APBN yang berpotensi berlanjut hingga 2026.
Gunawan menilai pelemahan Rupiah dapat menjadi faktor penahan kinerja pasar saham meskipun sentimen eksternal dari Asia relatif positif. Pasar keuangan domestik, menurut dia, masih akan bergerak fluktuatif mengikuti dinamika global dalam jangka pendek.
