google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Kerja Keras Pemerintah Prabowo, Penanggulangan Bencana di Sumatera Tak Kenal Hari Libur

Advertisement

Kerja Keras Pemerintah Prabowo, Penanggulangan Bencana di Sumatera Tak Kenal Hari Libur

Editor: Dyan
31 Desember 2025

Presiden Prabowo Subianto turun langsung untuk memastikan penanganan bencana banjir di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh, berjalan lancar. 
ANTARAsatu.com | MEDAN - Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan seluruh jajaran untuk bergerak cepat menangani bencana banjir Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh.

Bahkan pembangunan relokasi hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, yang dikerjakan oleh pihak PT Hutama Karya (Persero/HK) dikebut. Seluruh sumber daya dikerahkan, tak kenal hari libur.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso mengatakan perhatian Presiden RI, Prabowo Subianto menunjukkan keseriusan tinggi dalam memastikan pemulihan pascabencana di Sumatera berjalan optimal.

"Di tengah padatnya agenda kenegaraan, Presiden secara intensif bolak-balik Jakarta–Sumatera untuk memantau langsung kondisi lapangan sekaligus memimpin rapat terbatas guna memperoleh perkembangan terkini penanganan bencana," ujar Sugiat Santoso, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra ini, dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).

Sugiat Santoso yang juga Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumut ini menjelaskan Presiden Prabowo melakukan kunjungan di sejumlah wilayah terdampak banjir dan tanah longsor seperti di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah Datar, termasuk Aceh serta Sumatera Utara.

"Hal ini sebagai bentuk nyata untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai target, terutama terkait pembangunan hunian sementara, penanganan pengungsian, serta pemulihan infrastruktur vital," ungkap Sugiat.

Salah satunya tambah Sugiat, pembentukan Satgas Darurat Jembatan yang melibatkan berbagai unsur negara. Ia memerintahkan Menteri Pendidikan Tinggi untuk mengerahkan universitas guna membantu desain dan perencanaan jembatan.

Bersama TNI dan Polri, khususnya seluruh Batalyon Zeni dan kompi konstruksi, perlu turun langsung ke titik-titik prioritas. Seluruh kementerian dan lembaga terkait juga perlu mempercepat eksekusi tanpa prosedur bertele-tele.

Lalu, sejumlah wilayah administrasi kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak bencana banjir dan tanah longsor telah memulai fase transisi darurat ke pemulihan. Salah satu langkah penanganan pada tahapan ini yaitu penyiapan tempat tinggal bagi warga korban bencana.

Pada fase ini, Pemerintah Pusat membantu pemerintah daerah untuk memfasilitasi masyarakat terdampak di sektor hunian. Pemerintah menyampaikan skema bantuan hunian bagi warga di tiga Provinsi, Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat.

Presiden Prabowo Turun Tangani Banjir dan Longsor

Sementara itu, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut) Ronggur Raja Doli Simorangkir menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat dan upaya maksimal dalam menanggulangi bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera.

Ronggur yang juga Anggota DPRD Kota Binjai menilai, kompleksitas persoalan bencana di Sumatera membuat penanganannya tidak bisa dilakukan secara instan.

Namun demikian, hingga saat ini seluruh unsur kekuatan negara terus bekerja secara terpadu, baik dalam mengatasi penyebab banjir maupun menangani dampak yang ditimbulkan.

"Pak Presiden sedang berupaya maksimal. Masalah banjir di Sumatera ini sangat kompleks, sehingga memang butuh waktu. Tapi kita bisa lihat sampai hari ini seluruh kekuatan negara terus bekerja tanpa henti," kata Ronggur kepada wartawan, Rabu (31/12/2025).

Menurut Ronggur, tingkat kerusakan akibat banjir dan longsor di Sumatera sudah berada pada kategori sangat parah, sehingga wajar jika Presiden merangkul seluruh kabinet dan membentuk satuan tugas darurat, khususnya untuk pembangunan dan perbaikan jembatan.

Ia menekankan, keberadaan jembatan menjadi kunci agar tidak ada lagi daerah yang terisolasi pascabencana.

"Situasinya memang harus melibatkan unsur penting negara. Kita butuh jembatan-jembatan darurat supaya tidak ada wilayah yang terputus aksesnya. BNPB tidak mungkin bekerja sendiri, ini butuh kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Ronggur juga memastikan bahwa sejumlah wilayah kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak telah memasuki fase transisi dari tanggap darurat ke pemulihan.

Ia mencontohkan wilayah Tapanuli, Sumatera Utara, di mana hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak telah dibangun dan segera dapat dihuni.

Selain itu, akses jalan yang sebelumnya terputus kini sudah kembali normal, sehingga tidak ada lagi daerah yang terisolasi.

"Banyak kebijakan pemerintah untuk meringankan beban warga, seperti relaksasi kredit, KUR, sampai kebijakan Pak Gubernur Sumut yang menggratiskan biaya pendidikan bagi warga terdampak banjir," jelasnya.

Terkait kesiapan hunian sementara bagi korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang (Aceh) dan Sibolga (Sumut) yang dijadwalkan siap huni pada 1 Januari 2026 dan akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Ronggur menilai langkah tersebut sangat membantu masyarakat.

"Huntara ini bukti bahwa Pak Presiden benar-benar bekerja keras untuk rakyat. Dengan adanya hunian sementara, masyarakat bisa mulai kembali beraktivitas dan tidak lagi bergantung pada posko pengungsian," ujarnya.

Ke depan, Ronggur berharap Presiden Prabowo Subianto dapat menertibkan kawasan hutan secara tegas untuk mencegah alih fungsi hutan yang masif, yang dinilai menjadi salah satu faktor utama terjadinya banjir di berbagai daerah.

Selain itu, ia mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah yang rusak parah akibat bencana, mengingat kemampuan APBD daerah sangat terbatas.

"Kami juga mendorong evaluasi kinerja BNPB agar ke depan sebagai garda terdepan penanganan bencana bisa lebih responsif, cepat, dan efektif," pungkas Ronggur.

Terpisah salah satu Korban Banjir dan Longsor Aceh Tamiang, Amir Hamzah didampingi anaknya Dedi (36 th) dan tetangganya Serik (40 th), mengaku tetap bersyukur meski dilanda bencana, dimana tidak ada warga yang kehilangan nyawa.

"Hampir 3 minggu kami terisolir di kampung ini. Dengan bantuan seadanya yang diantar relawan menaiki sampan. Akhirnya setelah akses jalan lancar. Bantuan kini tercukupi," tuturnya.

"Tapi aliran listrik belum ada hingga kini. Kami coba bertahan dengan lampu pelita buatan sendiri. Air bersih juga masih sulit. Karena air sungai belum bisa digunakan," sambungnya.

"Kami dengar ada bantuan hunian sementara dari pemerintah. Ada juga kabarnya rumah-rumah kami akan dibangun kembali oleh Presiden Prabowo, kami terima kasih kali Pak," ucapnya haru.

Dirinya dan sejumlah warga turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemimpin negara dan gubernur. "Terima kasih Pak Prabowo, Pak Gubernur Mualem apabila rencana itu segera bisa terwujud," pungkas Amir. ***