google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Ekspansi ke Energi Hijau, PGN Siapkan Tiga Strategi Bisnis Gas

Advertisement

Ekspansi ke Energi Hijau, PGN Siapkan Tiga Strategi Bisnis Gas

22 Desember 2025

 


ANTARAsatu.com | JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyiapkan tiga strategi bisnis gas sebagai bagian dari ekspansi menuju energi hijau sekaligus mendukung transisi energi nasional. Strategi itu dijalankan melalui tiga pilar utama G-A-S, yakni Grow, Adapt, dan Step-Out.


"Ketiga pilar ini untuk memperkuat peran gas bumi sebagai energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ungkap Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Hery Murahmanta dalam Indonesia Energy Outlook 2026, di Jakarta, belum lama ini.


Dia menjelaskan, pilar Grow difokuskan pada penguatan infrastruktur gas bumi, mencakup jaringan transmisi dan distribusi, fasilitas regasifikasi, serta pengembangan jaringan gas rumah tangga. Pilar Adapt diarahkan pada pengembangan bisnis LNG trading dan bunkering serta pembangunan infrastruktur upstream LNG domestik untuk menyediakan total solutions energy services.


Sedangkan pilar Step-Out difokuskan pada hilirisasi gas bumi ke sektor petrokimia maupun energi hijau melalui pengembangan biomethane serta bisnis transportasi karbon. Strategi ini disiapkan untuk menjawab kebutuhan energi masa depan sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.


Hery menyampaikan, saat ini PGN mengelola sekitar 95% infrastruktur hilir gas bumi nasional yang melayani kebutuhan energi di 17 provinsi dan 74 kabupaten/kota. Ke depan, PGN menargetkan pemerataan layanan gas bumi ke seluruh wilayah Indonesia melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.


Dalam pengelolaan gas bumi nasional, PGN menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya lokasi sumber pasokan yang jauh dari pusat konsumsi, pertumbuhan permintaan yang berkelanjutan, serta tantangan keekonomian pengembangan infrastruktur.


Kondisi tersebut mendorong PGN memperkuat dan mengintegrasikan infrastruktur gas bumi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Strategi integrasi infrastruktur gas bumi pun disesuaikan dengan kondisi geografis dan skema penyaluran paling optimal di setiap wilayah.


Di Indonesia bagian barat, integrasi difokuskan pada pengembangan jaringan pipa transmisi dan distribusi yang menghubungkan Sumatera hingga Jawa. Dengan dukungan sistem beyond pipeline untuk meningkatkan fleksibilitas penyaluran.


Sementara di Indonesia bagian timur, PGN menerapkan pengembangan sistem beyond pipeline yang didukung jaringan pipa terintegrasi. Skema ini dirancang untuk menjangkau pusat-pusat permintaan yang tersebar sesuai karakteristik geografis wilayah.


Hery menambahkan, integrasi dilakukan melalui penghubungan fisik berbagai ruas pipa gas bumi serta integrasi operasional. Yakni melalui pengelolaan terpadu sistem transmisi dan regasifikasi.


Upaya ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah, pemasok gas, serta operator pipa lainnya. Terutama untuk meningkatkan keandalan penyaluran gas bumi nasional.


Selain penguatan infrastruktur fisik, PGN juga menerapkan digitalisasi dalam pengelolaan asset management system. Melalui digitalisasi, pemantauan operasional penyaluran gas dapat dilakukan secara real-time.


Dengan begitu pengaturan dan penanganan gangguan dapat berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi lintas fungsi. Terlebih, di tengah dinamika global dan tantangan pengelolaan energi, penguatan peran gas bumi dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.


"Gas bumi juga diposisikan sebagai energi transisi dalam proses menuju bauran energi yang lebih bersih," imbuhnya.


Sementara, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan, pengurangan ketergantungan pada batu bara akan meningkatkan peran gas bumi sebagai energi perantara.


"Hal ini akan menjadikan gas bumi sebagai primadona. Baik untuk pembangkit listrik, sektor industri, maupun sebagai bahan baku," ujar Laode.