Salah satu kilang beras di Kabupaten Deli Serdang, Sumut.
ANTARASATU.COM | Medan - Kelangkaan beras premium di sejumlah ritel modern di Sumut menjadi sorotan ekonom. Kondisi itu dinilai janggal karena terjadi saat padi memasuki musim panen raya dan pasokan beras di pasar tradisional masih tersedia.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, persoalan yang terjadi bukan menunjukkan adanya gangguan pasokan beras secara keseluruhan di Sumut. Menurut dia, kelangkaan lebih terlihat pada beras premium yang dipasarkan melalui ritel modern.
"Secara keseluruhan tidak ada masalah serius pada pasokan beras di Sumut. Pasokan tersedia cukup, apalagi saat musim panen seperti sekarang," ungkapnya, Rabu (16/9).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, beras premium masih tersedia di sejumlah pasar tradisional Kota Medan. Namun, sebagian beras dijual dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi berbeda terlihat di ritel modern, masyarakat justru mengalami kesulitan memperoleh beras premium. Gunawan mengatakan, situasi itu perlu ditelusuri karena dapat berkaitan dengan persoalan harga di sepanjang rantai pasok.
Dia menduga ketatnya ketentuan HET menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi beras premium ke ritel modern. Di sisi lain, biaya produksi penggilingan atau produsen beras mengalami kenaikan.
Dia mencontohkan, pemerintah sebelumnya menetapkan harga pembelian gabah di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram. Namun, saat ini harga gabah di lapangan telah berada di kisaran Rp7.300 per kilogram.
Dengan asumsi tingkat rendemen atau konversi gabah menjadi beras sekitar 50%, harga gabah itu setara dengan biaya bahan baku sekitar Rp14.600 per kilogram. Angka itu pun belum memperhitungkan biaya pengemasan, tenaga kerja, transportasi, logistik serta margin keuntungan pada setiap mata rantai distribusi.
"Kalau ditambahkan biaya kemasan, tenaga kerja, distribusi atau logistik hingga keuntungan di setiap rantai pasok, harga jual beras premium akan berada di atas HET," imbuhnya.
Menurut dia, kondisi ini berpotensi menciptakan benturan antara struktur biaya produksi dengan ketentuan harga yang berlaku. Jika produsen tidak dapat menjual dengan harga yang menutup biaya produksi melalui ritel modern, distribusi ke kanal itu berpotensi ikut terdampak.
Gunawan mengatakan, persoalan kelangkaan beras premium di ritel modern perlu ditelusuri hingga tingkat produsen atau penggilingan. Pelaku usaha di sektor itu menghadapi kenaikan berbagai biaya input.
Mulai dari harga plastik untuk kemasan, upah tenaga kerja, transportasi dan logistik, hingga bahan bakar minyak nonsubsidi. Kenaikan biaya ini membuat penggilingan harus menyesuaikan strategi pemasaran dan distribusinya.
"Artinya, ada kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya membuat kilang harus menyiasati pemasaran," ujarnya.
Dia juga mengingatkan, jika beras premium semakin sulit ditemukan di ritel modern, dampaknya bukan hanya terhadap konsumen. Produsen atau penggilingan juga berpotensi mengalami kerugian.
Hal itu karena merek dan branding beras premium yang selama ini dibangun bisa kehilangan akses kepada konsumen. Karena itu dia mendorong pemerintah melakukan penelusuran terhadap kelangkaan beras premium di ritel modern.
Pemeriksaan, menurut dia, perlu dilakukan secara menyeluruh pada setiap mata rantai pasok. Mulai dari produsen, penggilingan, distributor hingga ritel, untuk mencari sumber persoalan.
