Eks Kapolres Tapsel Yasir Ahmadi (paling kanan) saat memberi kesaksian. (Juita Sinuhaji/DetikSumut)
ANTARAsatu.com | MEDAN – Mantan Kapolres Tapanuli Selatan (Tapsel) AKBP Yasir Ahmadi mengakui telah menjadi perantara pertemuan antara pengusaha Muhammad Akhirun Piliang alias Kirun dengan Topan Ginting yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Sumut. Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek jalan Sumut di Pengadilan Tipikor Medan, Jumat (23/1/2026).
"Kami ketemu Pak Topan dan Pak Kirun di kantornya beliau pada Mei 2025. Saya yang menghubungi Topan atas permintaan lak Kirun yang katanya mau urus galian C, sekaligus saya ada tugas ke Medan, jadi kami jumpai," ungkapnya saat memberi kesaksian untuk terdakwa Topan Ginting dan Rasuli Siregar.
Yasir menuturkan, sebelum pertemuan itu, Kirun sempat mendatanginya di rumah pribadinya di Medan. Kirun meminta bantuan agar dipertemukan dengan Topan, yang saat itu juga menjabat Kepala Dinas ESDM, untuk mengurus izin galian C miliknya yang terbengkalai.
Yasir mengaku bersedia membantu karena merasa berutang budi atas peran Kirun. Sebab Kirun sering secara sukarela memperbaiki kerusakan jalan dan membersihkan material longsor di jalur Batu Jomba tanpa bayaran negara.
Mengutip detik.com, Dalam pertemuan tersebut Yasir menyebut sempat terjadi perdebatan antara Topan dan Kirun mengenai prosedur pengeluaran izin. Yakni apakah harus mendahulukan pembayaran uang reklamasi atau penerbitan izin.
Keduanya juga sempat membahas hal-hal di luar perkara, seperti rumah Topan yang viral hingga kondisi anak Topan yang sakit.
Terkait keterlibatan terdakwa Rasuli Siregar, Yasir menyatakan pernah bertemu. Namun tidak menjalin komunikasi intens karena tidak mengenal sosok tersebut.
Yasir juga mengklaim tidak mengetahui adanya pembahasan proyek jalan dalam pertemuan di Grand City Hall maupun lokasi lain. Ia berdalih selalu berada di luar ruangan saat pembicaraan berlangsung.
Menutup keterangannya, Yasir menyebut sering membayar tagihan pertemuan di berbagai kafe. Meski ia mengaku tidak mengingat nama perusahaan galian C milik Kirun di Batang Toru tersebut.
