google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Tekanan Geopolitik Ancam Penguatan IHSG dan Rupiah Pekan Ini

Advertisement

Tekanan Geopolitik Ancam Penguatan IHSG dan Rupiah Pekan Ini

01 November 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan ini. Ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama menyangkut potensi peningkatan ketegangan antara AS dan Iran, menjadi salah satu faktor yang dapat membayangi pemulihan pasar keuangan domestik.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, pelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi geopolitik global yang berpotensi memicu perubahan sentimen investasi. Ketegangan ini dapat mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Kondisi itu tercermin dari pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (30/10). Sepanjang perdagangan, indeks mayoritas bergerak di zona merah dan sempat mengalami tekanan hingga menembus level psikologis 5.000. Pada sesi pertama, IHSG bahkan sempat merosot ke posisi 4.979.

Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung hingga penutupan perdagangan. IHSG berhasil berbalik arah dan kembali bertengger di atas level psikologis 5.000, tepatnya pada posisi 5.057,050.

Menurut Gunawan, secara teknikal IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak konsolidatif di sekitar level 5.000. Pergerakan itu diperkirakan berlangsung sembari menunggu munculnya sentimen baru yang dapat menentukan arah pasar selanjutnya.

"IHSG memang belum saatnya untuk melemah di bawah level psikologis. Namun, pasar masih membutuhkan sentimen baru untuk menentukan arah pergerakannya," ungkapnya, di Medan, Minggu (1/11).

Di tengah tekanan pasar saham, rupiah justru menunjukkan ketahanan dengan ditutup menguat tipis pada perdagangan terakhir di level 18.120. Perbedaan itu menunjukkan bahwa tekanan yang dialami pasar keuangan domestik tidak sepenuhnya bergerak searah.

Gunawan menilai, tekanan yang terjadi pada pasar saham Indonesia juga relatif lebih berat dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Hal ini mengindikasikan bahwa IHSG masih dibayangi sejumlah sentimen negatif domestik maupun eksternal yang perlu dicermati investor.

Salah satu perhatian utama pelaku pasar adalah kemungkinan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kabar mengenai pertemuan sejumlah pejabat militer tinggi AS dengan Presiden Donald Trump turut memunculkan spekulasi mengenai opsi tindakan militer terhadap Iran.

Ketidakpastian itu langsung mendapat respons dari pasar komoditas, khususnya minyak mentah. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat diperdagangkan di kisaran US$103 per barel, sedangkan minyak mentah Brent berada di sekitar US$113 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu konsekuensi yang perlu diperhatikan pasar jika ketegangan geopolitik semakin meluas. Selain berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, lonjakan harga minyak juga dapat memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Situasi ini turut memunculkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, atau Federal Reserve, berpotensi kembali menekan aset berisiko dan memengaruhi arus modal global.

Tekanan terhadap aset investasi juga terlihat pada pergerakan harga emas. Logam mulia diperdagangkan melemah ke level US$3.998 per ons troy atau setara sekitar Rp2,34 juta per gram.