google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rumor Sanksi MSCI masih Berpotensi Tahan Penguatan IHSG dan Rupiah

Advertisement

Rumor Sanksi MSCI masih Berpotensi Tahan Penguatan IHSG dan Rupiah

12 Oktober 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan Senin (12/10). IHSG ditutup melemah 2,59% ke level 5.936,147, setelah sempat menyentuh posisi terendah 5.917, atau mendekati level psikologis 5.900.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut. Terutama di tengah beredarnya rumor mengenai kemungkinan sanksi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap sejumlah emiten di pasar modal Indonesia.

Menurut Gunawan, pelemahan IHSG yang menembus level psikologis 6.000 menjadi salah satu faktor yang dapat memperbesar tekanan jual di pasar saham.

“Ketika IHSG diperdagangkan di bawah level psikologis 6.000, tekanan terhadap indeks cenderung meningkat. Secara teknikal, penembusan level psikologis dapat memicu akumulasi tekanan jual maupun perubahan sentimen pelaku pasar,” ungkapnya, di Medan, Senin (12/10).

Ia menjelaskan, koreksi IHSG itu tidak terlepas dari kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga ditutup di zona merah, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia.

Di sisi lain, rumor mengenai kemungkinan sanksi MSCI terhadap sejumlah emiten domestik turut menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian itu berpotensi memengaruhi keputusan investasi, khususnya ketika investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Meski memang rumor itu perlu dibedakan dari keputusan resmi. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan informasi dan pengumuman dari pihak terkait sebelum mengambil kesimpulan mengenai dampaknya terhadap emiten maupun pasar saham secara keseluruhan.

Tekanan pasar juga terlihat pada pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah di kisaran Rp17.895 per dolar AS. Selama sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.905 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah memburuknya sentimen eksternal dan penguatan dollar AS yang didukung sejumlah indikator keuangan Amerika Serikat. Menurut Gunawan, penguatan dolar AS dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi itu berpotensi memengaruhi minat investor terhadap aset-aset di pasar negara berkembang, terutama ketika ketidakpastian global meningkat. Kombinasi pelemahan rupiah dan koreksi IHSG menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada instrumen saham, tetapi juga merambah pasar valuta asing.

Apabila sentimen global belum membaik dan ketidakpastian terkait rumor MSCI masih berlanjut, pergerakan IHSG dan rupiah berpotensi tetap berfluktuasi. Karena itu, perkembangan pasar global serta kepastian informasi dari MSCI menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

Harga emas dunia juga mengalami pelemahan. Harga emas tercatat berada di kisaran US$4.171 per troy ounce, setara sekitar Rp2,41 juta per gram berdasarkan perhitungan indikatif.

Pelemahan harga emas tersebut terjadi ketika harga minyak mentah kembali naik ke kisaran US$105,7 per barrel. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan pergerakan aset keuangan, termasuk emas, dollar AS serta saham. Namun, pergerakan harga emas tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga minyak.

Penguatan dolar AS, perubahan imbal hasil obligasi serta ekspektasi suku bunga juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi permintaan emas di pasar global.