Ilustrasi.
ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan setelah ditutup naik 1,04% ke level 6.093,759 pada Jumat (9/10). Penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat terkoreksi hingga menembus ke bawah level psikologis 6.000, tepatnya di kisaran 5.995.
Sejalan dengan penguatan IHSG, nilai tukar rupiah juga mampu membalikkan pelemahan pada perdagangan akhir pekan. Rupiah yang sempat melemah hingga menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi pertama, akhirnya ditutup menguat tipis ke posisi Rp17.875 per dolar AS.
Analis pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, penguatan pasar keuangan domestik itu tidak terlepas dari membaiknya sentimen di pasar keuangan regional. Pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia turut memberi ruang bagi IHSG dan rupiah untuk bergerak menguat.
"Sejumlah mata uang Asia, seperti baht Thailand, dolar Hong Kong, dan rupee India, turut mencatatkan penguatan terhadap dolar AS," ungkap Gunawan, di Medan, Jumat (9/10).
Sementara itu, indeks dolar AS atau US Dollar Index dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun terpantau relatif stabil pada akhir pekan. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia bergerak turun sepanjang sesi perdagangan.
Pada perdagangan sore, harga minyak mentah berada di kisaran US$102,8 per barel. Penurunan harga minyak turut meredakan tekanan terhadap pasar keuangan global.
Kondisi ini memberi ruang bagi aset-aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik, untuk mengalami pemulihan meski penguatan itu masih berpotensi bersifat sementara. Dari dalam negeri, sentimen pasar juga mendapat dukungan dari data penjualan ritel Agustus yang tumbuh 1,3% secara tahunan atau year on year (YoY).
Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 1,1%. Kenaikan penjualan ritel mengindikasikan adanya perbaikan aktivitas konsumsi domestik.
Meski demikian, arah pergerakan IHSG dan rupiah, menurut Gunawan, selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen eksternal. Terutama pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta harga komoditas global.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat menguat ke level US$4.180 per ons troi atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram. Penguatan emas terjadi di tengah penurunan harga minyak mentah pada akhir pekan.
