ANTARASATU.COM | Medan - IHSG kembali melemah di tengah tekanan sentimen ekonomi global. Kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi AS dan potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed) membayangi pergerakan pasar keuangan Indonesia.
IHSG ditutup turun 1,33% ke level 5.863,78. Pada perdagangan Kamis (15/1), IHSG sempat menyentuh level 5.804 sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya. Sejak dibuka di level 5.917, IHSG terus bergerak di zona merah.
Indeks tidak mampu kembali ke posisi awal perdagangan. Secara teknikal, tekanan jual mulai tertahan ketika IHSG mendekati level psikologis 5.800.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak terlepas dari perkembangan ekonomi AS. Kenaikan inflasi di negara itu memperkuat kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
"Pelemahan IHSG juga sejalan dengan koreksi di sejumlah bursa saham Asia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dipengaruhi sentimen global," ungkapnya, di Medan, Kamis (15/10).
Di pasar valuta asing, rupiah turut tertekan. Mata uang Indonesia ditutup melemah ke level Rp17.920 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.955 per dolar AS sebelum berbalik menguat terbatas.
Menariknya, penguatan dolar AS tidak sepenuhnya didukung oleh pergerakan sejumlah indikator keuangan AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun turun ke bawah level 5,1%.
Sementara itu, indeks dollar AS atau US Dollar Index (DXY) melemah ke level 102,02. Kondisi itu mengindikasikan bahwa pergerakan dolar AS tidak hanya dipengaruhi indikator pasar obligasi dan indeks mata uang.
Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian pelaku pasar. Tekanan jual pada pasar obligasi AS telah mereda seiring meningkatnya keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuannya.
Perubahan ekspektasi ini dapat memengaruhi aliran modal global, termasuk ke negara berkembang seperti Indonesia. Gunawan memperkirakan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi berlanjut apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin kuat.
Kondisi itu dapat mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar saham dan instrumen keuangan negara berkembang. Jika kenaikan suku bunga benar-benar terjadi pada 2026, maka tekanan terhadap pasar keuangan berpotensi bertahan hingga akhir tahun.
Namun arah pergerakan pasar tetap bergantung pada perkembangan inflasi AS, keputusan The Fed serta respons kebijakan otoritas keuangan di dalam negeri. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah diperkirakannya akan lebih mencermati tekanan terhadap rupiah dan pasar saham.
Kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi serta memertahankan likuiditas menjadi faktor penting dalam menghadapi gejolak pasar global.
Di tengah tekanan terhadap saham dan rupiah, harga emas dunia justru melanjutkan penguatan. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.158 per troy ounce.
Jika dikonversi secara sederhana, harga tersebut setara dengan sekitar Rp2,4 juta per gram, bergantung pada kurs yang digunakan. Penguatan emas terjadi ketika harga minyak mentah turun ke kisaran US$103 per barrel.
