google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 PROYEKSI BURSA: Pelaku Pasar Waspada, Inflasi AS Berpotensi Tekan IHSG dan Rupiah

Advertisement

PROYEKSI BURSA: Pelaku Pasar Waspada, Inflasi AS Berpotensi Tekan IHSG dan Rupiah

14 Oktober 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Pelaku pasar keuangan domestik cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Data itu menjadi salah satu faktor penentu pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah dalam perdagangan berikutnya.

Pada perdagangan Rabu (14/10), IHSG ditutup menguat 0,29% ke level 5.943,024. Namun penguatan itu terpangkas setelah indeks sempat menyentuh level 6.009.

Sementara itu, rupiah ditutup melemah pada level Rp17.895 per dollar AS, setelah sempat diperdagangkan di atas Rp17.900 per dollar AS.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global. Terutama prospek inflasi AS dan dampaknya terhadap kebijakan moneter.

"Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung menahan diri sebelum mengambil keputusan investasi," ungkapnya, di Medan, Rabu (14/10).

Kekhawatiran pasar juga terlihat dari pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang mayoritas ditutup melemah. Meski IHSG mampu bertahan di zona positif, penguatan indeks belum cukup untuk menghilangkan tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia memperoleh sentimen positif setelah Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memerkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026. Proyeksi ini memberi gambaran bahwa perekonomian nasional masih berpeluang memertahankan pertumbuhan di kisaran 5%.

Namun, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor. Pergerakan pasar keuangan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, terutama data inflasi AS yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Data inflasi AS menjadi perhatian utama karena dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Tekanan inflasi itu turut dikaitkan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara lebih luas.

Dalam proyeksi yang beredar, inflasi AS diperkirakan mencapai 2,5% secara tahunan. Jika realisasi inflasi melampaui perkiraan itu pasar berpotensi merespons negatif karena ruang pelonggaran kebijakan moneter AS dapat semakin terbatas.

Kondisi ini dapat memicu tekanan terhadap pasar saham dan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Harga minyak mentah jenis Brent yang bertahan di kisaran US$105,8 per barrel juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Jika harga energi tetap tinggi, tekanan inflasi global berpotensi bertahan dan memperbesar ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Menjelang pengumuman data inflasi tersebut pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam mengantisipasi kemungkinan perubahan sentimen global setelah data ekonomi AS dirilis.

Di tengah ketidakpastian itu investor juga mencermati pergerakan harga komoditas lain. Harga emas tercatat melemah ke kisaran US$4.143 per troy ounce atau sekitar Rp2,39 juta per gram.