ANTARASATU.COM | Medan - IHSG dan nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan lanjutan menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Tekanan itu dinilai dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kemungkinan penurunan status menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk tekanan di pasar saham dan pasar valuta asing. Risiko itu juga muncul di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global.
Pada perdagangan Jumat (16/10), IHSG mengalami penurunan tajam hingga 11,57%. Indeks bahkan sempat mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt sebelum akhirnya menyentuh level 5.185, yang sekaligus menjadi level penutupan perdagangan.
"Tekanan terhadap IHSG muncul setelah beredar kabar bahwa MSCI mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia," ungkapnya, di Medan, Jumat (16/10).
Jika rencana itu terealisasi, kata dia, maka pasar modal Indonesia berpotensi menghadapi penurunan minat investor asing yang selama ini menjadi salah satu sumber likuiditas perdagangan.
Di pasar valuta asing, rupiah juga mengalami tekanan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. Mata uang domestik bahkan sempat melemah ke kisaran Rp18.060 per dolar AS pada perdagangan Jumat.
Menurut Gunawan, potensi keluarnya dana asing atau capital outflow menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai jika penurunan status pasar saham Indonesia benar-benar terjadi. Arus keluar modal dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah, terutama ketika kondisi pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian.
Tekanan itu juga berpotensi merembet ke pasar obligasi domestik. Jika investor asing mengurangi kepemilikan aset keuangan Indonesia, maka pemerintah dan pelaku pasar dapat menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga likuiditas serta menarik pendanaan.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global. Data inflasi AS memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS atau Federal Reserve.
Ekspektasi itu dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dananya di berbagai negara. Meski demikian, sejumlah indikator keuangan AS pada akhir pekan menunjukkan pelemahan.
Indeks dolar AS atau US Dollar Index berada di sekitar 102,1, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun mendekati 5,05 persen. Gunawan menilai pemerintah dan otoritas terkait perlu mewaspadai keterkaitan antara tekanan di pasar saham, pasar obligasi dan nilai tukar.
Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset domestik, kemampuan pasar keuangan untuk menopang likuiditas dapat ikut melemah. Bank Indonesia juga berpotensi menghadapi tantangan lebih besar dalam menyetabilkan rupiah jika tekanan arus modal meningkat.
Kondisi ini dapat semakin kompleks jika dibarengi kenaikan harga minyak dunia dan memburuknya ketegangan geopolitik. Karena itu, perkembangan keputusan MSCI menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati oleh pelaku pasar.
Kepastian mengenai status pasar saham Indonesia, arah kebijakan suku bunga global dan respons otoritas domestik akan memengaruhi perkembangan IHSG dan rupiah selanjutnya.
