google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Ketatnya Moneter Bayangi Pasar, IHSG dan Rupiah masih akan Melemah

Advertisement

Ketatnya Moneter Bayangi Pasar, IHSG dan Rupiah masih akan Melemah

01 Oktober 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih belum mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah, sementara nilai tukar rupiah terus bergerak melemah di tengah tekanan dari pasar obligasi global dan penguatan dolar Amerika Serikat.

IHSG sempat mencoba bangkit pada perdagangan sesi pertama, Kamis (1/10). dan menyentuh level 6.095 sebagai posisi tertingginya. Namun, penguatan tersebut tidak mampu bertahan hingga akhir perdagangan.

Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 1,02% ke level 6.009,502. Bahkan, sepanjang perdagangan IHSG sempat menyentuh level 5.973.

Menurut Gunawan Benjamin, Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), pergerakan IHSG ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup kuat.

"Secara teknikal, posisi IHSG yang sempat turun di bawah level 6.000 menjadi perhatian karena menunjukkan masih terbukanya peluang tekanan dalam jangka pendek," ungkapnya, di Medan, Kamis (1/10).

Tekanan juga terasa di pasar valuta asing. Rupiah kembali melemah hingga berada di level Rp17.940 per dolar AS. Gunawan melihat pergerakan rupiah tidak terlepas dari tekanan yang terjadi di pasar surat utang global.

Aksi jual pada pasar obligasi mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury. Sementara dolar AS juga menguat yang tercermin dari kenaikan indeks dolar AS atau USD Index.

Kondisi itu membuat aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan yang lebih besar. Gunawan meyakini Investor cenderung akan menjadi lebih berhati-hati ketika imbal hasil aset berbasis dolar AS meningkat.

Di tengah kondisi ini kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi perhatian. Harga minyak Brent kembali menyentuh level US$100 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah perusahaan-perusahaan refinery minyak di China dikabarkan melarang ekspor minyak. Kabar itu kembali mengangkat kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Sebelumnya, tekanan terhadap harga minyak sempat muncul akibat data yang menunjukkan pasokan minyak di Amerika Serikat cukup besar. Namun, perkembangan terbaru membuat perhatian pasar kembali beralih pada potensi gangguan pasokan, terutama di tengah masih tingginya risiko geopolitik.

Gunawan menilai perkembangan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar. Jika harga minyak bertahan di level tinggi, risiko meningkatnya tekanan inflasi kembali mengemuka.

Kondisi ini menjadi semakin penting karena bank sentral di berbagai negara masih harus memperhitungkan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi. Kenaikan harga komoditas energi dapat memberi tekanan tambahan terhadap inflasi dan pada akhirnya mempengaruhi arah kebijakan moneter.

Sementara itu, harga emas juga belum mampu keluar dari tekanan. Harga emas tercatat melemah ke level US$4.169 per ons troy, atau sekitar Rp2,41 juta per gram.

Gunawan melihat pergerakan emas turut dipengaruhi gejolak di pasar obligasi. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberi imbal hasil secara langsung dapat ikut tertekan.

Di sisi lain, laju inflasi yang masih menjadi perhatian membuat prospek kebijakan moneter ketat belum sepenuhnya hilang dari radar investor. Menurut Gunawan, kenaikan harga yang terjadi di lapangan berpotensi memertahankan tekanan inflasi dan menjadi salah satu pertimbangan dalam arah kebijakan moneter ke depan.

Situasi ini membuat pasar keuangan masih menghadapi sejumlah faktor eksternal secara bersamaan. Mulai dari kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak hingga risiko geopolitik.

Dengan kombinasi tekanan itu Gunawan melihat pergerakan IHSG dan rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi menghadapi tekanan. Pelaku pasar pun akan mencermati perkembangan inflasi, arah suku bunga global, pergerakan imbal hasil obligasi serta harga komoditas sebagai penentu sentimen pasar berikutnya.