ANTARASATU.COM | Medan - Pergerakan pasar keuangan Indonesia berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendapat sentimen-sentimen positif dari pasar global, meski investor masih perlu mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar datang dari pergerakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun. Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10), yield US Treasury 10 tahun turun di bawah level 5,3% dan pada sore hari terpantau berada di kisaran 5,2%.
Penurunan imbal hasil US Treasury tersebut turut diikuti pelemahan US Dollar Index (DXY) ke level 102. Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent juga mengalami penurunan dan berada di kisaran US$99,8 per barel.
"Kombinasi pergerakan tersebut memberikan ruang bagi aset-aset di pasar domestik untuk menguat," ujar Gunawan, di Medan, Jumat (2/10).
Rupiah, misalnya, merespons kondisi pasar global dengan ditutup menguat ke level Rp17.868 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda turut menopang pergerakan IHSG.
Pada perdagangan Jumat, IHSG sempat berada di bawah tekanan dan melemah hingga level 5.979. Namun, memasuki sesi perdagangan kedua, indeks berbalik arah dan kembali bergerak di zona hijau.
Pada akhir perdagangan, IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036,888. Sementara itu, mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak mixed sepanjang sesi perdagangan.
Pergerakan positif di penghujung pekan tersebut memberikan bekal bagi IHSG dan rupiah untuk menghadapi perdagangan pekan depan. Meski demikian, pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian karena sentimen global dapat berubah dengan cepat.
Gunawan mengatakan, saat ini pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Eskalasi konflik menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, harga komoditas, hingga arah kebijakan moneter global.
"Kalau tensinya tidak kembali memanas dan masalah perang bisa diselesaikan dalam waktu dekat, maka tekanan inflasi berpotensi mereda," ungkapnya.
Kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan investor untuk meminta imbal hasil yang lebih tinggi dan pada akhirnya meredakan tekanan jual di pasar obligasi.
Namun, risiko sebaliknya tetap terbuka. Ancaman eskalasi konflik masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar keuangan. Perubahan situasi geopolitik dapat kembali memicu volatilitas pada harga minyak, dolar AS, obligasi, maupun pasar saham.
Di tengah dinamika tersebut, emas justru masih memiliki peluang untuk mencuri perhatian investor.
Harga emas dunia tercatat menguat ke level US$4.184 per ons troi atau setara sekitar Rp2,41 juta per gram. Penguatan harga emas mendapatkan dukungan dari melemahnya harga minyak mentah dunia.
Harga emas juga masih menjadi perhatian karena ketidakpastian pasar keuangan belum sepenuhnya mereda. Meski demikian, pergerakannya tetap dibayangi oleh kemungkinan kenaikan suku bunga acuan hingga akhir 2026.
Dengan demikian, arah pasar pada pekan depan akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, terutama kondisi geopolitik dan pergerakan yield US Treasury, dolar AS, serta harga komoditas.
Bagi investor, pergerakan IHSG dan rupiah masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan apabila sentimen eksternal tetap mendukung. Di sisi lain, emas berpotensi mempertahankan daya tariknya selama ketidakpastian di pasar global masih membayangi.
