google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Diduga Dianiaya Guru, Siswa SMAN 2 Binjai Alami Gangguan Ingatan hingga Pembengkakan Usus

Advertisement

Diduga Dianiaya Guru, Siswa SMAN 2 Binjai Alami Gangguan Ingatan hingga Pembengkakan Usus

07 Oktober 2026


ANTARASATU.COM | Binjai - Kondisi seorang siswa SMA Negeri 2 Binjai, Sumut, memburuk setelah pulang sekolah pada September lalu. Keluarga menyebut siswa itu mengalami sejumlah keluhan fisik dan gangguan ingatan hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polres Binjai. Polisi menyelidiki dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh guru olahraga SMA Negeri 2 Binjai, YS.

Kasat Reskrim Polres Binjai AKP Hotdiatur Purba mengatakan, penyidik telah memeriksa 12 saksi terkait laporan tersebut. Polisi juga meminta keterangan dari Yudhi sebagai terlapor.

"Untuk laporan tersebut sudah kami periksa 12 orang saksi," kata Hotdiatur, Rabu (7/10).

Menurut Hotdiatur, penyidik masih mendalami perkara berdasarkan fakta yang diperoleh dari pemeriksaan para saksi. Polisi belum menyampaikan kesimpulan akhir mengenai dugaan penganiayaan tersebut.

Laporan terhadap YS tercatat dengan nomor LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara. YS merupakan guru olahraga sekaligus Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan di SMA Negeri 2 Binjai.

Laporan tersebut muncul setelah kondisi siswa berubah sepulang sekolah pada Rabu, 16 September 2026. Ayah korban, Aidil Syahputra, mengatakan anaknya pulang dengan kondisi yang berbeda dari biasanya.

Saat ditanya apa yang terjadi di sekolah, menurut Aidil, anaknya tidak memberikan penjelasan. Malam harinya, siswa tersebut mengalami demam sehingga tidak masuk sekolah pada keesokan harinya.

Korban kembali bersekolah pada Jumat, 18 September. Namun, kondisi anaknya disebut semakin berubah setelah pulang sekolah. Sehari kemudian, korban mengalami gangguan komunikasi serta mengeluhkan pusing dan sakit pada bagian perut.

Aidil kemudian membawa anaknya ke rumah sakit. Saat itu, dokter sempat mendiagnosis korban mengalami gangguan lambung.

Kecurigaan keluarga muncul setelah kondisi korban terus memburuk dan mengalami gangguan ingatan. Menurut Aidil, keluarga kemudian merekam percakapan ketika menanyakan apa yang terjadi kepada korban.

"Dia mengakui bahwasanya dia dipukul. Namun dia tidak cerita siapa yang memukul dan kapan waktunya," kata Aidil.

Keluarga kemudian kembali membawa korban ke rumah sakit dan meminta pemeriksaan MRI. Aidil mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya benturan di kepala, pembengkakan pada rusuk kiri dan dada kiri, serta memar pada kaki dan bagian belakang pinggang.

Korban juga mengeluhkan sakit pada ulu hati hingga kesulitan bernapas. Menurut Aidil, pemeriksaan medis juga menunjukkan adanya pembengkakan pada usus.

Kondisi korban kembali memburuk saat menjalani perawatan pada Senin malam, 21 September. Aidil mengatakan anaknya ketika itu sudah kesulitan berbicara.

Menurut Aidil, dugaan mengenai siapa yang memukul korban mulai terungkap ketika sejumlah tetangga dan kerabat datang menjenguk. Mereka menanyakan langsung kepada korban mengenai peristiwa yang dialaminya.

"Kemudian karena banyak tetangga dan kerabat yang datang untuk menjenguk, ditanyakan siapa yang melakukan pemukulan itu dan di situ terbongkar semua," ujar Aidil.

Selain keluhan fisik, Aidil mengatakan anaknya mengalami tekanan mental setelah dugaan penganiayaan tersebut.

Namun YS membantah tuduhan tersebut. Dia mengatakan sedang sakit dan tidak masuk sekolah selama sekitar dua pekan ketika peristiwa yang dituduhkan kepadanya terjadi.

Dia juga mempertanyakan tuduhan tersebut dan membuka kemungkinan melaporkan balik pihak yang menuduhnya. Namun, YS mengatakan belum mengambil langkah itu karena mempertimbangkan institusi sekolah.

"Bisa saja saya tuntut balik, namanya kan pencemaran nama baik," katanya.

YS juga mengatakan keluarganya memiliki latar belakang kepolisian. Karena itu, menurut dia, jika memang ada laporan terhadap dirinya, seharusnya ada panggilan resmi dari polisi.

"Kebetulan keluarga saya polisi semua. Seharusnya kalau ada surat (laporan) polisi, saya dipanggil," ujarnya.