ANTARASATU.COM | Medan - Pergerakan pasar keuangan domestik menunjukkan tanda-tanda perlawanan setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Penguatan tipis rupiah dan harga emas menjadi salah satu sinyal yang turut membuka peluang pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Rupiah yang sempat bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS berbalik arah pada perdagangan Selasa (29/9). Mata uang Garuda ditutup menguat tipis di level Rp18.960 per dolar AS, sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS.
Namun, menurut Gunawan Benjamin, Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara, penguatan itu belum didukung oleh perubahan signifikan pada sentimen global yang dapat mendorong pelemahan dolar AS.
"Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) masih bertahan di sekitar level 101,33," ungkapnya, di Medan, Selasa (29/9).
Di sisi lain, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun juga masih berada di atas 5,2%. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar AS masih relatif terbatas.
Pergerakan rupiah pada perdagangan kali ini juga lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal maupun potensi intervensi di pasar valuta asing. Pergerakan serupa juga terlihat pada IHSG.
Indeks sempat tertekan hingga menyentuh level 6.013 sebelum akhirnya berbalik arah dan mengurangi sebagian besar pelemahannya. Meski demikian, IHSG masih ditutup melemah 0,43% ke level 6.121.
Pergerakan itu dilihat Gunawan menunjukkan adanya aksi beli yang mampu meredam tekanan jual di sepanjang perdagangan.
"Perlawanan" IHSG ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan pembalikan arah rupiah. Jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut dan sentimen eksternal mulai membaik, maka ruang pemulihan IHSG masih terbuka.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah juga bergerak turun. Harga minyak Brent terpantau berada di kisaran US$104 per barel.
Namun Gunawan menilai penurunan harga minyak itu belum banyak mengubah pergerakan dua indikator keuangan Amerika Serikat, yakni indeks dolar AS dan yield US Treasury. Namun, dari sisi pasar komoditas, pelemahan harga minyak turut memberi ruang bagi harga emas untuk menguat.
Harga emas tercatat naik ke sekitar US$4.151 per ons troy atau setara dengan sekitar Rp2,4 juta per gram. Penguatan emas di tengah pelemahan minyak menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati perubahan aliran dana di tengah volatilitas pasar global.
"Emas juga tetap menjadi salah satu aset yang diperhatikan ketika pasar menghadapi ketidakpastian," ujarnya.
Dengan demikian, kombinasi penguatan rupiah, aksi beli yang meredam penurunan IHSG serta kenaikan harga emas menjadi sejumlah indikator yang perlu dicermati investor dalam perdagangan berikutnya. Arah dolar AS, yield US Treasury dan pergerakan harga komoditas masih akan menjadi faktor penting bagi pasar keuangan domestik.
