Ilustrasi.
SUMUTNOMICS.COM | Medan - Pergerakan pasar keuangan domestik kembali menunjukkan dinamika yang cukup beragam. Rupiah mampu bangkit setelah sempat mendapat tekanan dari dolar AS, sementara IHSG justru harus berakhir di zona merah pada perdagangan Jumat (25/9).
Rupiah sempat mengalami tekanan cukup kuat pada sesi perdagangan pagi hingga bergerak ke kisaran Rp18.000 per dolar AS. Namun tekanan itu perlahan mereda sehingga mata uang Garuda mampu berbalik arah.
Pada akhir perdagangan, rupiah ditutup menguat tipis di level Rp17.880 per dolar AS. Penguatan ini, menurut Gunawan Benjamin, Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih berupaya menjaga posisi rupiah di tengah tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan global.
"Tekanan terhadap rupiah sebelumnya tidak terlepas dari perkembangan eksternal yang membuat investor kembali mencermati arah pasar keuangan AS," ungkapnya, di Medan, Jumat (25/9).
Pergerakan dolar AS dan imbal hasil instrumen keuangan AS, lanjut dia, menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, cerita berbeda terlihat di pasar saham. IHSG tidak mampu memertahankan penguatan yang sempat terjadi pada awal perdagangan.
Indeks sempat menyentuh level 6.328, tetapi kemudian berbalik melemah dan ditutup turun 0,9% ke level 6.241,89. Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi penekan pergerakan indeks.
Beberapa di antaranya adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Timah Tbk (TINS), serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Perbedaan arah antara rupiah dan IHSG menggambarkan bagaimana pelaku pasar merespons tekanan global dengan cara yang berbeda pada masing-masing kelas aset. Gunawan menilai, ke depan, pasar keuangan domestik masih menghadapi tantangan dari perkembangan sektor keuangan AS.
Tekanan jual pada obligasi AS berpotensi merembet ke pasar obligasi negara lain, termasuk Indonesia. Ketika investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi, pasar keuangan domestik perlu memiliki ruang yang cukup untuk merespons perubahan tersebut.
Kondisi ini membuat kalibrasi kebijakan oleh otoritas moneter maupun pemerintah menjadi penting untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Persaingan dalam memperebutkan likuiditas juga berpotensi semakin ketat jika negara-negara berupaya mempertahankan daya tarik instrumen keuangannya.
Salah satu respons yang dapat muncul dalam kondisi tertentu adalah penyesuaian tingkat suku bunga acuan. Dengan kondisi itu, tekanan terhadap aset berisiko masih dapat berlangsung selama inflasi membuat investor menuntut kompensasi atau imbal hasil yang lebih tinggi dari instrumen keuangan yang dimiliki.
Di tengah ketidakpastian pasar saham dan mata uang, emas justru menunjukkan pergerakan positif. Harga emas tercatat menguat ke level US$4.304 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram.
"Pergerakan itu menunjukkan bahwa investor masih memiliki alternatif aset yang dipandang dapat menjadi tempat berlindung ketika volatilitas pasar keuangan meningkat," pungkas Gunawan.
