google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Anomali IHSG: Bursa Asia Menguat, Pasar Saham Indonesia Justru Ambruk

Advertisement

Anomali IHSG: Bursa Asia Menguat, Pasar Saham Indonesia Justru Ambruk

30 Juni 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan, Selasa (30/6). IHSG ditutup anjlok 3,05% ke level 5.643,194 setelah sepanjang sesi perdagangan konsisten bergerak di zona merah.

Pergerakan indeks juga terbilang sangat fluktuatif. IHSG sempat bergerak dalam rentang 5.638 hingga 5.811 sebelum akhirnya ditutup di dekat level terendah hariannya. Koreksi tajam ini terjadi ketika mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru berakhir di zona hijau.

Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kondisi itu merupakan anomali yang menunjukkan tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia lebih banyak dipicu sentimen domestik ketimbang faktor global.

"Mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau. Namun IHSG justru mengalami koreksi lebih dari 3%. Ini menunjukkan pasar domestik sedang menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan kawasan," katanya, di Medan.

Pelemahan IHSG berlangsung beriringan dengan depresiasi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.875 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp17.910 per dolar AS selama sesi perdagangan.

Menurut Gunawan, memang terdapat kenaikan pada indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index) ke kisaran 101,33 selama perdagangan Asia. Namun kenaikan itu dinilai terlalu kecil untuk menjadi penyebab utama pelemahan rupiah yang cukup dalam.

"USD Index memang naik, tetapi kenaikannya tidak cukup besar untuk memicu pelemahan rupiah sedalam itu. Karena itu, pasar tampaknya sedang mencermati faktor-faktor domestik," ujarnya.

Perhatian investor kini tertuju pada dua agenda penting yang akan diumumkan pemerintah pada perdagangan berikutnya. Yakni data inflasi dan hasil peninjauan (review) outlook peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings.

Gunawan memerkirakan data inflasi tidak akan memberi dampak signifikan terhadap pergerakan pasar. Sebaliknya, hasil evaluasi S&P akan menjadi katalis utama yang menentukan arah IHSG maupun nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

"Pelaku pasar saat ini cenderung menunggu hasil review S&P. Penilaian lembaga pemeringkat tersebut berpotensi menjadi penentu arah pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu ke depan," katanya.

Di tengah tekanan pada pasar saham dan nilai tukar rupiah, aset safe haven justru mencatat penguatan. Harga emas dunia naik ke level US$4.015 per troy ounce. Dalam denominasi rupiah, harga emas mencapai sekitar Rp2,32 juta per gram.

Menurut Gunawan, kenaikan harga emas lebih banyak didorong sentimen teknikal. Namun kondisi ini sekaligus mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dinilai lebih aman ketika ketidakpastian pasar meningkat.