Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Rupiah gagal memanfaatkan momentum positif dari data domestik. Meski neraca perdagangan mencatatkan surplus hingga US$ 3,3 miliar, Rupiah justru tertekan di zona merah dan ditutup melemah di level Rp17.365 per dolar AS pada perdagangan Senin (4/5).
Analis UISU Gunawan Benjamin menilai, pelemahan Rupiah dipicu oleh rilis data manufaktur (S&P Global Manufacturing PMI) Indonesia yang mengalami kontraksi ke level 49,1. Angka di bawah 50 ini menunjukkan aktivitas industri yang sedang menyusut sehingga menjadi sentimen negatif yang kuat bagi mata uang Garuda.
“Rupiah terlihat sangat rentan hari ini. Bahkan topangan dari memburuknya kinerja US Dollar Index di level 98,18 serta data neraca perdagangan yang surplus tetap tidak mampu menahan tekanan jual pada Rupiah,” ujarnya, di Medan.
Sepanjang perdagangan Rupiah ditransaksikan dalam rentang yang cukup lebar. Yakni antara Rp17.330 hingga Rp17.380 per dolar AS dan mencerminkan tingginya volatilitas pasar merespons data manufaktur yang berada di zona kontraksi.
Rilis data inflasi tahunan yang turun menjadi 2,42% pada bulan April juga belum mampu memberi tenaga tambahan bagi pasar keuangan domestik. Kondisi serupa terjadi di pasar modal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak anomali dibandingkan mayoritas bursa Asia yang konsisten berada di zona hijau. IHSG sempat menguat di sesi pembukaan, tetapi terus mengalami tekanan jual hingga ditutup hanya naik tipis 0,22% ke level 6.971,953.
Gunawan menilai, pelemahan Rupiah turut andil dalam menekan kinerja IHSG selama sesi perdagangan berlangsung. Beruntung, sejumlah emiten perbankan dan tambang besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, TINS, hingga ANTM masih mampu menyangga indeks agar tidak terperosok ke zona merah.
Sementara dari pasar komoditas, harga emas dunia merosot ke level US$ 4.588 per ons troy atau sekitar Rp2,57 juta per gram. Harga emas juga diproyeksikan masih akan mengalami tekanan di tengah kenaikan harga minyak mentah yang kembali merangkak naik mendekati US$ 110 per barel.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran baru di pasar global,” pungkas Gunawan.
