Dodi Muhammad (29) semasa hidup. (Dok. IDNTimes)
ANTARAsatu.com | MEDAN - Zulkarnain (56), tak mampu membendung air mata saat meratapi kepergian putra sulungnya, Dodi Muhammad (29). Dodi tewas mengenaskan setelah diduga menjadi korban penganiayaan akibat dituduh mencuri buah matoa di Jalan Nahkoda Sulaiman, Kelurahan Sei Mati, Medan Labuhan.
"Hanya karena mengambil buah, tapi kok sampai disiksa begini bahkan sampai meninggal," ujar Zulkarnain, Selasa (7/4/2026).
Peristiwa pilu ini bermula pada Senin pagi kemarin. Zulkarnain, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir, mendapat kabar bahwa anaknya dibawa ke Polsek Medan Labuhan karena tuduhan pencurian.
Saat tiba di kantor polisi ia baru tahu anaknya telah dilaporkan oleh seorang pria berinisial A dan bahkan nyawanya sudah tidak tertolong. Zulkarnain mengaku terkejut saat melihat kondisi jenazah Dodi di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, Dodi tampak diikat kaki dan tangannya saat dianiaya.
"Waktu saya tengok, hidung dan mulutnya berdarah. Ada memar-memar di badan, kepala, sampai wajah," ungkapnya.
Keluarga merasa tindakan para pelaku sangat tidak manusiawi. Zulkarnain mengatakan, jika memang anaknya bersalah, seharusnya diserahkan ke pihak berwajib tanpa kekerasan fisik yang brutal.
"Kami tak terima, anak saya dibuat seperti binatang," tegasnya.
Pihak keluarga telah resmi melaporkan dugaan penganiayaan ini ke Polres Pelabuhan Belawan dan meminta kepolisian segera menangkap para pelaku. Mereka menyetujui proses autopsi untuk memperkuat bukti kekerasan tersebut.
Sementara itu Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan AKP Agus Purnomo mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari dua belah pihak.
"Laporan sudah diterima, baik terkait dugaan penganiayaan dari pihak keluarga korban, maupun laporan dugaan pencurian oleh pria berinisial A. Saat ini posisi saling lapor," kata Agus.
Adapun jenazah Dodi Muhammad telah dimakamkan oleh pihak keluarga pada Selasa pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
