google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 PREDIKSI EMAS: Harga Rontok dan akan Berlanjut Jika Perang Iran-AS Batal

Advertisement

PREDIKSI EMAS: Harga Rontok dan akan Berlanjut Jika Perang Iran-AS Batal

06 Februari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Tekanan pada harga emas dunia diproyeksikan akan berlanjut jika nantinya Iran dan AS bersepakat damai dan perang urung dilakukan. Harga emas dunia saat ini terkoreksi di kisaran US$ 4.718 per ons troy atau sekitar Rp 2,6 juta per gram seiring meredanya tensi geopolitik.


Kesepakatan kedua negara untuk berunding di Oman menjadi kabar buruk bagi emas, sementara pelaku pasar masih menanti hasil konkret pertemuan tersebut. Diplomasi tersebut diprediksi bukan hanya berpengaruh terhadap harga emas, melainkan juga terhadap kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.


"Pelaku pasar komoditas sementara waktu akan lebih memilih wait and see," ujar Ekonom UISU, Gunawan Benjamin, di Medan, Jumat (6/2).


Pada Kamis (5/2) Emas sudah tertekan oleh sentimen pencalonan Gubernur The Fed oleh Presiden AS di samping isu geopolitik yang memanas. Tekanan tersebut muncul seiring ekspektasi pasar terhadap penundaan pemangkasan suku bunga acuan AS.


Emas sebelumnya sempat mendekati level psikologis US$5.100 pada perdagangan kemarin. Harga emas kemudian terkoreksi secara teknikal dan ditransaksikan di kisaran US$4.882 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram.


Pernyataan hawkish pejabat The Fed memperkuat spekulasi penundaan pemangkasan suku bunga sehingga menekan harga emas. Pasar kembali berspekulasi bahwa The Fed berpeluang besar menunda pemangkasan suku bunga acuannya.


Pelaku pasar masih menanti rilis data ekonomi AS yang berpotensi mengubah ekspektasi tersebut. Tekanan terhadap harga emas juga dipicu oleh penguatan dolar AS di pasar global.


Penguatan dolar didorong oleh lonjakan kinerja USD Index dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Sinyal hawkish turut tercermin dari gambaran calon Gubernur Bank Sentral AS ke depan.


Kandidat tersebut dinilai memiliki kecenderungan kebijakan yang lebih bernada hawkish dibandingkan kandidat lainnya. Ketegangan geopolitik global mendorong investor memburu aset safe haven.