Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan meski memiliki batas yang jelas secara fundamental. Dalam analisis angka, level US$5.430 per ons troy dipandang sebagai batas wajar kenaikan harga emas dalam kondisi ekonomi global yang relatif normal.
Proyeksi tersebut muncul di tengah ketidakpastian global yang masih sangat besar sehingga masih terlalu dini untuk memproyeksikan pergerakan harga emas hingga satu tahun ke depan. Ketidakpastian itu terutama bersumber dari dinamika geopolitik yang dalam kondisi tertentu berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi.
“Dari posisi saat ini di kisaran US$4.914 per ons troy, kenaikan hingga US$5.430 sudah mencerminkan kondisi fundamental ekonomi global,” kata Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan, Selasa (3/2).
Secara fundamental, emas masih berpeluang mengalami kenaikan harga dalam satu tahun ke depan meski risiko koreksi lanjutan tetap terbuka dan dapat terjadi berulang. Kenaikan yang bersifat terbatas tersebut mencerminkan peluang penguatan emas di tengah kondisi ekonomi global saat ini.
Namun faktor geopolitik dinilai berpotensi menciptakan tekanan besar terhadap perekonomian global. Kondisi tersebut dapat memperburuk situasi ekonomi dengan cepat dan memicu kenaikan harga emas yang tidak terkendali.
Jika konflik atau perang global mulai pecah pada tahun ini, harga emas berpeluang melonjak hingga ke level US$5.750 per ons troy dalam waktu relatif dekat. Risiko kenaikan akan semakin besar apabila eskalasi konflik meningkat dan meluas ke berbagai kawasan.
Dalam skenario eskalasi geopolitik yang lebih luas, harga emas dunia kembali berpeluang melampaui proyeksi fundamental paling optimistis. Lonjakan tersebut akan didorong oleh meningkatnya permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Secara umum, potensi kenaikan harga emas pada tahun ini masih terbuka. Ketidakpastian global membuat ekspektasi harga emas ke depan menjadi sangat beragam di kalangan pelaku pasar.
Selama investor masih dihantui kekhawatiran akan potensi memburuknya kondisi ekonomi, risiko krisis dinilai tetap menyertai pasar keuangan. Dalam situasi tersebut, emas diperkirakan akan menjadi instrumen yang memegang kendali saat krisis terjadi.
