ANTARAsatu.com | MEDAN - Kekhawatiran kenaikan harga beras kembali mencuat setelah cadangan Bulog di Sumatra Utara dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasokan riil. Intervensi distribusi beras SPHP disebut hanya sementara menahan gejolak harga.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin mengatakan, penurunan harga saat ini dibarengi dengan intervensi Bulog.
"Kalau tanpa intervensi Bulog, pasar bisa lebih jelas menunjukkan harga riil. Kekhawatiran saya, harga beras bisa kembali naik setelah musim panen besar tahun ini berakhir," ujarnya, Selasa (16/9).
Bulog Sumut sepanjang September mencatat distribusi beras SPHP mencapai 9.100 ton. Distribusi itu dinilai mampu menekan harga, meskipun penurunan tidak terjadi merata di semua daerah.
Mengacu data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga beras medium di Medan turun menjadi Rp14.400–Rp14.650 per kilogram dari Rp14.500–Rp14.800 pada 10 September 2025. Gunung Sitoli juga mengalami penurunan harga rata-rata menjadi Rp14.800–Rp15.150 dari Rp14.900–Rp15.750 per kilogram.
Kondisi berbeda terlihat di Sibolga, di mana rata-rata harga beras justru naik menjadi Rp15.150 dari Rp15.050 per kilogram. Namun, untuk jenis medium lainnya harga di Sibolga turun tipis dari Rp14.850 menjadi Rp14.800 per kilogram.
Gunawan menyebut rata-rata harga beras medium di Sumut memang terkoreksi ke kisaran Rp14.400–Rp14.650 per kilogram. Ia memperkirakan pasokan beras tertinggi di provinsi ini terjadi pada September, dengan jumlah mencapai 272 ribu hingga 299 ribu ton.
Meski begitu, ia menilai cadangan beras Bulog sebagian besar ditopang serapan gabah dari petani, bukan tambahan dari pasokan impor. Hal itu membuat suplai di lapangan tidak banyak berubah meskipun stok Bulog tampak besar.
Gunawan menambahkan penurunan harga yang terjadi sejauh ini relatif terbatas. Harga beras hanya turun beberapa ratus rupiah, belum mampu menyentuh Rp2.000 per kilogram dibandingkan level tertinggi pada Juli lalu.
Ia memperingatkan risiko harga beras kembali meningkat pada kuartal IV 2025. Konsumen dinilai berisiko menghadapi lonjakan harga begitu musim panen usai dan intervensi Bulog berkurang.
