Redaksi

24 Agustus 2025

Riset Ungkap Pemicu Beli Mobil Listrik: Bukan Harga, Tahan Baterai Jadi Raja

 

Ilustrasi. (Hinrich Foundation)


ANTARAsatu.com | MEDAN - Di tengah pergeseran lanskap otomotif nasional, tren mobil listrik menunjukkan geliat yang semakin kuat dan menjadi sebuah keniscayaan. Antusiasme publik tercermin dari kenaikan jumlah pengunjung Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 menjadi 485.569 orang, meningkat dari 475.084 pada tahun sebelumnya.


Lanskap preferensi konsumen otomotif Indonesia mengalami pergeseran fundamental. Calon pengguna mobil listrik kini telah berevolusi menjadi konsumen yang lebih matang.


Dengan pertimbangan yang berorientasi pada fungsi dan nilai jangka panjang. Tdak lagi sekadar terpikat harga murah.


President Director Praxis, Adwi Yudiansyah, mengatakan, melihat tren tersebut, Praxis sebagai agensi public relations (PR) dan public affairs (PA) meluncurkan hasil survei kelima. Survei itu berjudul "Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna".


Survei ini memotret perilaku, preferensi dan aspirasi dari 1.200 pengguna mobil listrik di 12 kota besar di Indonesia. Hasil survei menunjukkan beberapa hal penting, terutama masalah baterai.


"Daya tahan baterai menjadi faktor utama (pertimbangan membeli mobil listrik). Mengungguli harga beli dan reputasi merek," ungkapnya melalui keterangan tertulis, belum lama ini.


Sebanyak 35,17% responden memilih daya tahan baterai sebagai faktor utama. Dikuti harga beli 21,33% dan reputasi merek 18,5%.


Sebanyak 52% responden menganggap garansi baterai sebagai penawaran paling berpengaruh, diikuti diskon harga beli 30% dan bundling wall charger 10%. Kemudian masalah infrastruktur menjadi prioritas kebijakan utama bagi 46% responden.


Mencakup perluasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan ketersediaan bengkel resmi. Meski 79% pengguna menilai pengalaman berkendara dengan mobil listrik lebih baik, tetapi sebanyak 78% mengeluhkan durasi pengisian daya enam jam yang dirasa terlalu lama.


"Media sosial menjadi sumber informasi utama bagi 51% responden, mengungguli pameran otomotif yang hanya 22%," tambah Adwi Yudiansyah.


Menurut Head of Research Praxis Garda Maharsi, hasil survei ini menunjukkan bahwa pengguna mobil listrik di Indonesia telah bergerak melampaui "demam harga murah". Dan ini menjadi tanda pasar yang semakin dewasa.


"Data ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ekspektasi pengguna dengan strategi produsen, pemerintah dan penyedia infrastruktur," ujarnya.


Hasil survei ini, kata dia lagi, menunjukkan Indonesia sedang berada di titik transisi yang krusial menuju mobilitas listrik. Karena itu diperlukan aksi yang konkret oleh seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang andal, terjangkau dan mudah diakses.