Redaksi

25 Agustus 2025

Jeruk Karo di Ambang Kepunahan, Lahan Aktif Menyusut Drastis Tinggal 4.841 Hektare

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | KARO - Lahan perkebunan jeruk di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menyusut drastis menjadi hanya 4.841 hektare dari sebelumnya yang pernah mencapai 20.000 hektare.


Penyusutan lahan disebabkan oleh serangan hama lalat buah dan masalah pendanaan yang membuat banyak petani beralih ke tanaman lain. Bupati Karo Antonius Ginting mengonfirmasi data terbaru tersebut.


"Ini data real perkebunan jeruk yang masih aktif," ungkapnya, Senin (25/8).


Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengklaim semakin serius menangani hama lalat buah di tanaman jeruk. Rajali, Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut meminta kabupaten penghasil jeruk seperti Karo, Simalungun, Dairi, Pakpak dan Tapanuli Utara menyiapkan data akurat terkait lahan dan jumlah petani.


"Kita akan implementasikan penanganan lalat buah dengan teknologi dan konsep dari PT Agrari. Action-nya harus tepat, terutama data karena kita akan bergerak dari situ," ujarnya.


Pemprov Sumut akan melakukan intervensi langsung dalam satu bulan ke depan. Semua kegiatan benar-benar dikerjakan di lapangan, mulai dari program sampai legalitas.


"Kita akan intervensi satu bulan ke depan," tambahnya.


Pemprov Sumut akan fokus pada tiga hal. Yakni penyediaan data yang akurat, implementasi teknologi penanganan hama serta penyelesaian masalah pendanaan petani jeruk yang kompleks.


CEO PT Agrari Robertus Theodore mengungkapkan, banyak petani jeruk yang terlilit hutang sehingga kebunnya terbengkalai.


"Mereka (petani jeruk) tidak bisa mengajukan (kredit/pinjaman) ke bank karena pembayaran mandek. Kita ingin masalah ini juga diselesaikan," kata Robertus.


Robertus berharap skema penanganan yang berhasil mereka  terapkan di kawasan Liang Melas Datas (LMD), Karo, bisa diimplementasikan di daerah lain.


"Kalau tidak dilakukan secara serius, jeruk Karo bisa punah seperti jeruk di daerah lain," ujarnya.