Redaksi

21 Agustus 2025

Dapat Rapor Kenaikan Harga Terburuk, Pemprov Sumut Janji Lepas 15.700 Ton Beras Bulog

 

Beras Bulog yang tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, beberapa waktu lalu.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Pemprov Sumut berjanji melepas 15.700 ton beras Bulog ke pasar untuk mengintervensi harga pasar. Hal itu dilakukannya setelah sebelumnya Sumut mendapat rapor kenaikan harga terburuk di Tanah Air.


"Ada 15.700 ton beras Bulog yang akan dibagikan untuk intervensi pasar," ungkap Erwin Hotmansah Harahap, Kepala Dinas Kominfo Sumut, Kamis (21/8).


Menurut dia, dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Ekonomi Makro yang diadakan bersama BPS dan Bulog di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut di Medan pada Rabu (20/8) malam, Gubernur Bobby Nasution menyatakan Pemprov Sumut akan segera menggelontorkan sekitar 15.700 ton beras Bulog.


Beras tersebut akan digelontorkan lewat operasi pasar secara serentak di berbagai daerah di Sumut. Beras tersebut dinilai murah karena diharuskan dijual dengan harga paling mahal Rp13.100 per kilogram.


Pemprov Sumut meyakini langkah ini dapat dilakukan karena sudah membahasnya sampai ke masalah teknis bersama dengan Bulog, dalam rapat tersebut. Hal itu juga dimungkinkan karena jauh sebelumnya Pemprov Sumut sudah meneken MoU dengan Bulog terkait pelaksanaan operasi pasar.


Pada Selasa (19/8), Sumut tercatat berkontribusi paling besar dalam peningkatan Indeks Perkembangan Harga, atau IPH, di Tanah Air. Rapor terburuk itu diakibatkan kenaikan harga beberapa komoditas pangan, terutama beras.


Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir mengatakan, terdapat 14 provinsi yang berkontribusi pada kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Dan dari jumlah provinsi tersebut Sumut memberikan andil terbesar, yakni mencapai 3,58%.


"Kenaikan ini terutama disebabkan oleh beberapa komoditas. Beras adalah yang utama mengalami kenaikan harga," ungkapnya.


Indeks Perkembangan Harga (IPH) merupakan ukuran statistik yang menunjukkan perubahan harga dari 20 komoditas pangan yang memiliki bobot besar dalam Indeks Harga Konsumen (IHK). Komoditas-komoditas pangan tersebut berpengaruh signifikan terhadap inflasi.


Menurut Erwin, Sumut memiliki daerah-daerah yang menjadi sentra dari komoditas-komoditas yang mengalami kenaikan harga. Namun karena banyak dari komoditas tersebut didistribusikan ke luar provinsi, seperti ke Riau dan Aceh, Sumut mengalami keterbatasan stok sehingga mengerek harga.


Pemprov Sumut optimistis gelontoran beras ini mampu mengintervensi dan mengendalikan harga beras di pasaran sehingga harga kembali normal dan terjangkau masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi mengeluhkan mahalnya harga beras.


Menurut Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumut Budi Cahyanto, beras yang akan digelontorkan adalah beras SPHP (Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Penyalurannya akan dilakukan lamgsung melalui berbagai instrumen ritel dengan target 600 ton per hari.


Yakni pengecer di pasar rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, gerai pangan binaan pemerintah daerah serta BUMN yang bergerak di bidang pangan. Kemudian Koperasi/gerai Instansi pemerintah, Rumah Pangan Kita (RPK) serta swalayan/toko ritel modern.